Polemik Surat Suara “Kardus” tahun 2019

Mandalahuripnews (18/12/2018). Kotak suara kardus menjadi polemik. Inovasi yang dibuat Komisi Pemilihan Umum itu, menjadi pergunjingan partai politik jelang pemilihan presiden 2019. Kotak suara berbahan karton kedap air itu, dikritik lantaran dinilai tidak kuat dan membuat potensi terjadinya kecurangan.

CAWAPRES KH. Ma’ruf Amin berkomentar soal “kotak suara” dari kardus

Calon wakil presiden 01 Kiai Maruf Amin heran dengan pihak yang meributkan hal tersebut.”Saya pikir baiknya tidak perlu dipersoalkan karena dalam rapat DPR tidak ada protes. Artinya sudah disepakati,” ujar Maruf Amin di Rumah Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat.  Maruf Amin mengatakan, apalagi kotak suara model seperti itu, sudah digunakan saat pemilihan umum 2014, serta pemilihan kepala daerah 2015, 2017, dan 2018. “Dan sudah dipakai pada waktu pilkada-pilkada walikota, bupati, maupun gubernur. Sebaiknya kita tidak meributkan hal itu. Apalagi waktu dibahas di DPR tidak ada protes-protes,” kata Maruf Amin.            Penggunaan kotak suara Pemilu 2019 berbahan dasar kardus kedap air atau karton mendapat banyak kritikan. Para politikus Partai Gerindra termasuk yang paling santer menyoal kotak suara Pemilu 2019 terbut dari kardus kedap air. Direktur Relawan BPN Prabowo-Sandiaga, Ferry Mursyidan Baldan malah menyindir Komisi Pemilihan Umum (KPU), dalam sebuah acara, dengan mempertanyakan mengapa tidak sekalian menggunakan kotak suara Pemilu 2019 menggunakan bahan daun pisang dikutip dari republika.com.

“Kita punya komitmen untuk membangun sistem demokrasi yang baik. KPU netral, Bawaslu netral,”kata Hasto.

Sebelumnya, Ketua KPU RI Arief Budiman menyatakan kotak suara itu kedap air dan tetap aman digunakan. Penggunaan kotak suara tersebut sudah diterapkan sejak empat kalipemilu.”Kotak suara berbahan karton kedap air bukan hal baru tapi sudah dilakukan di Pemilu 2014, Pilkada 2015, Pilkada 2017 dan di 2018, “katanya. Dia mengatakan relatif tidak ada laporan pemilu terganggu karena menggunakan karton kedapair.
Meski demikian, KPU Bantul DIY menerima sekitar 70 kotak suara kardus dalam kondisi rusak karena basah saat pengiriman.

Politikus lain mengaitkan adanya kehawatiran mudahnya terjadi kecurangan dalam Pemilu 2019 karena kotak suara berbahan kardus mudah rusak atau dirusak. Mendapat hujan kritikan, Komisoner KPU Pramono Ubaid Tanthowi mengatakan, pihaknya tidak menentukan bahan dasar kotak suara pemilu secara sepihak. Menurutnya, kotak suara Pemilu 2019 berbahan dasar kardus dipilih melalui persetujuan pemerintah dan DPR melalui mekanisme rapat dengar pendapat (RDP). Pemilu 2019 Oleh karenanya, ia mempertanyakan pihak-pihak yang saat ini mengkritik kotak suara berbahan dasar kardus atau karton kedap air tersebut.

Sementara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengkritisi kebijakan KPU yang akan menggunakan kotak suara berbahan kardus di Pemilu 2019. Kredibilitas pelaksanaan pemilupundiragukan.”Hal ini semakin menambah keraguan masyarakat mengenai kredibilitas pemilu mendatang. Saat ini kan marak ancaman Pemilu 2019 berlangsung tidak adil. Mulai dari tercecernya KTP elektronik hingga daftar pemilih yang juga masih bermasalah,” kata anggota BPNP Prabowo-Sandi,Chusni Mubarok dikutip  di Jakarta. Selain itu, dia menilai, kondisi fisik kotak suara itu akan memunculkan kecurigaan dimasyarakat.

Sebagai masyarakat Desa kita berharap bahwa keputusan yang diambil oleh pemerintah keputusan yang terbaik, karena kita yakin juga bahwa setiap kebijakan yang diambil berdasarkan dari beberapa  aspek kemanfaatan untuk masyarakat baik dari segi resiko manfaat dan lain-lain. Selain itu melihat polemik sekarang yang terjadi, alangkah baiknya kita sebagai masyarakat harus cerdas dalam menyikapi konflik yang terjadi. Tetaplah jadi pemilih yang cerdas yang bisa memilih pemimpin yang bisa memberikan manfaat dan bisa mendengar aspirasi masyarakat.

 

Kotak Suara untuk PILEG Dan PILPRES 2019

Facebook Comments