“Nyamut” Sebuah Rutinitas Yang dilakukan Petani ketika Musim Menghujan Tiba

Mandalahuripnews (19/12/2018)  Sebagai penduduk negara agraris, siapa yang tak kenal bajak sawah? Dahulu, alat tradisional yang ditarik hewan ternak untuk mengolah tanah tersebut sangat diandalkan. Namun seiring berkembangnya teknologi pertanian, keberadaan bajak sawah tradisional itu mulai hilang sehingga mengancam pola pertanian terpadu antara tanaman dan ternak.

Tidak kalah rapihnya pembajakan sawah dengan menggunakan sapi pun masih jadi pilihan petani disini ( yang membajak : Lili )

Di masa lampau, bajak sawah menjadi alat andalan para petani mengolah tanah pertanian menggantikan cangkul yang dirasa kurang  praktis.

Namun, kini keberadaan alat pertanian yang mengandalkan hewan ternak seperti sapi, maupun kerbau tersebut mulai langka, karena tergeser oleh kemudahan mesin traktor berbahan bakar minyak.

 Meski alat canggih pengolah lahan pertanian sudah sangat moderen. Tetapi cara tradisional terus lestari dan digunakan masyarakat di pedesaan.

Seperti, membajak sawah dengan menggunakan Kerbau. Memang sebelum ada traktor masuk untuk mempermudah masyarakat petani mengolah sawah sebelum bercocok tanam, bajak Kerbau menjadi andalan.

Terutama di lahan-lahan sawah yang sedikit lebih keras. Sehingga bajak Kerbau yang terbuat dari kayu diletakkan di atas pundak Kerbau, dengan kiri kanan kayu sementara di bagian belakang terdapat besi sedikit tajam yang sengaja diletakkan ketanah sehingga tanah jadi tergali saat ditarik oleh Kerbau.

Ketika itu hampir setiap petani memiliki ternak kerbau. Sehingga khusus Kerbau jantan akan dilatih untuk membajak disawah. Setiap Kerbau yang sudah patuh dan terbiasa membajak, bisa menghasilkan uang bagi pemiliknya.

Tidak heran, bila disawah-sawah masyarakat di pedesaan terlihat Kerbau sibuk membajak sawah. Berbeda sejak 20 tahun terakhir, Kerbau membajak sawah sulit ditemukan, karena petani lebih menggunakan  traktor untuk membajak sawah.

Proses pembajakan sawah yang masih menggunakan tenaga Sapi (lokasi : Legok)

“Bajak sawah menggunakan hewan memiliki kelebihan, yakni kaya akan pupuk organik dari kotoran hewan ternak yang digunakan tersebut,” jelas Mamat.

Disamping cepat, tenaga yang digunakan juga tidak banyak. Kemudian sawah yang tanahnya sedikit lebih lunak bisa ditanami usai di bajak. Meski peran Kerbau sudah tergantikan untuk mengolah lahan pertanian khusus sawah, tetapi membajak ala tradisional itu masih lestari hingga kini, meski sulit ditemui. Meski sedikit lama, disampaikan Mamat , kerja dengan bajak Kerbau cukup bagus. Setelah di bajak dan digenangi dengan air, maka tanah sudah lembut dan bisa ditanami.

 

 

 

 

Facebook Comments